Parkit termasuk salah satu burung master yang dapat dijadikan “guru bernyanyi” bagi sebagian besar burung kicauan. Namun burung ini juga bisa dijadikan burung piaraan di rumah, burung lomba, bahkan sahabat setia atau kawan bermain di rumah. Tidak heran jika banyak kicaumania yang ingin memilikinya. Lha, itu berarti penangkaran parkit saat ini cukup prospektif. Mau menangkar parkit? Bagaimana proses penjodohannya? Bagaimana pula perilaku indukan dalam penangkaran?
Menangkar parkit bagi sebagian orang mungkin terdengar mudah. Mungkin benar, tetapi bagi pemula diperlukan beberapa bekal ilmu breeding, yang kelak akan membentuknya menjadi pengalaman.
mahami parkit dalam kondisi breeding

Hal utama yang mesti diketahui calon breeder adalah memahami apa yang disebut sebagai kondisi breeding, yaitu kondisi di mana parkit sudah dalam kondisi siap kawin. Karena hal ini akan memudahkan dalam proses penjodohan.

Untuk mencapai kondisi breeding, diperlukan kejelian dalam memilih sepasang parkit yang sudah berusia mapan / dewasa. Dalam hal ini Anda bisa memperhatikan warna cere yang terdapat di pangkal paruh atas dari burung parkit. Cere adalah area di mana lubang hidung (nares) burung berada.

Parkit jantan dewasa memiliki cere berwarna biru, sedangkan parkit betina memiliki cere berwarna merah muda kecokelatan. Namun, khusus parkit albino, lutino, maupun warna resesif lainnya, cere pada burung jantan dewasa berwarna pink
Burung betina umumnya memiliki cere berwarna merah muda kecokelatan. Tetapi di luar kondisi breeding, warna cere akan berubah menjadi putih kebiruan. Yang paling direkomendasikan saat menjodohkan burung adalah ketika cere pada burung betina sudah berwarna gelap. Sebab pada waktu itulah mereka sedang dalam kondisi siap kawin alias siap berkembang biak.

Untuk pasangannya, Anda bisa menggunakan burung parkit jantan yang cukup aktif dan penuh energi. Ini bisa dilihat dari aktivitasnya yang sering melompat dari tenggeran satu ke tenggeran lainnya. Jantan yang aktif ini akan selalu mengejar dan mengikuti betinanya, namun tanpa menunjukkan sifat agresif.
Dua metode penjodohan parkit

Jika burung sudah benar-benar dalam kondisi breeding, maka proses penjodohan akan berjalan lebih mudah. Proses perjodohan burung parkit mungkin agak berbeda dengan jenis burung pada umumnya, terutama ketika Anda ingin menangkar beberapa pasangan parkit dalam satu kandang koloni.

Setidaknya ada dua metode penjodohan parkit yang biasa dilakukan para penangkar, yaitu :

Langsung menyatukan burung jantan dan burung betina dalam kandang koloni. Cara inilah yang paling popular. Hasilnya bervariasi, tergantung kondisi breeding dari burung tersebut. Sebab ada burung yang sudah berminggu-minggu lamanya disatukan, namun tidak mau kawin juga, atau bertelur. Sebaliknya, ada burung yang dalam waktu 1 minggu sudah mendapatkan jodohnya, kawin, lalu bertelur.
Memasukkan burung jantan terlebih dulu ke dalam kandang penangkaran selama 3 hari. Burung jantan dibiarkan beradaptasi dengan kandang dan gelodok yang disediakan. Pada hari ke-4, burung betina bisa dimasukkan ke kandang penangkaran, untuk diperkenalkan dengan burung jantan. Burung jantan yang beberapa hari mengalami kesepian pasti akan senang melihat kehadiran burung betina tersebut.
Mengenal perilaku parkit dalam penangkaran

Penangkar, atau perawat yang ditunjuknya, perlu memahami beberapa perilaku burung parkit selama berada dalam kandang penangkaran. Hal ini agar Anda tidak kaget, sekaligus bisa mengatasi masalah di lapangan. Berikut ini beberapa perilaku yang umum terjadi pada penangkaran burung parkit :

Burung yang mengabaikan pasangannya sendiri. Kasus seperti ini biasanya terjadi pada pasangan parkit yang sama-sama masih muda, atau baru saja memasuki umur dewasa kelamin.
Burung jantan aktif mengejar burung betina dan mencoba mengawininya. Namun si jantan akan menjadi sangat agresif, sehingga kerap menyakiti betinanya. Jika betinanya pemberani, dia akan balas melawan. Hal ini biasanya terjadi ketika suasana di dalam kandang tidak nyaman, atau burung jantan over birahi.
Burung betina menunjukkan ketidaksukaannya kepada burung jantan, dengan selalu menyerang burung jantan yang mau mendekatinya. Burung betina yang terlalu agresif seperti ini juga dapat membahayakan burung jantan. Biasanya terjadi pada burung betina yang umurnya lebih tua daripada burung jantan.

Solusi yang bisa dilakukan disesuaikan dengan akar penyebabnya. Karena itu, disarankan menjodohkan burung yang sudah matang kelamin (minimal 9-12 bulan), umur burung jantan harus lebih tua. Jika Anda melihat perilaku burung jantan atau burung betina yang agresif dan saling melukai, sebaiknya pisahkan saja. Kalau memungkinkan, bisa diganti dengan pasangan lain yang sekiranya lebih cocok.

Apabila burung jantan dan burung betina selalu terlihat akrab dan bisa saling menerima, maka bisa dipastikan proses perjodohan sudah berhasil. Anda tinggal menunggu waktu saja untuk menikmati kerja keras selama ini.