Mandi adalah aktivitas yang selalu dibutuhkan oleh manusia. Mandi memberikan perasaan bersih dan percaya diri. Dalam tuntunan Rasulullah SAW, ada 2 jenis mandi, yaitu mandi yang diwajibkan dan mandi yang disunnahkan. 

  1. A.    Mandi Wajib

Mandi wajib dilakukan jika terjadi hal-hal di bawah ini:

1.      Keluarnya mani dengan syahwat . Kebanyakan ulama berpendapat bahwa mandi diwajibkan hanya jika keluarnya mani secara memancar dan terasa nikmat ketika mani itu keluar. Jadi jika keluarnya karena kedinginan atau sakit, tidak ada kewajiban mandi. Tapi biar aman, tetap mandi saja

2.      Jika bangun tidur dan merasa keluarnya mani . Ulama berpendapat bahwa selama kita bangun dan menemukan adanya mani, maka kita wajib mandi, meskipun kita tidak sadar atau lupa sudah mimpi basah atau tidak.

3.   Setelah bertemunya dua kemaluan meskipun tidak keluar mani .

4. Setelah berhentinya darah haidth dan nifas .

5. Ketika orang kafir masuk islam.

6. Ketika seorang muslim meninggal dunia . Tentu saja yang memandikannya adalah yang orang yang masih hidup . Mayat muslim wajib dimandikan kecuali jika ia meninggal karena gugur di medan perang ketika berhadapan dengan orang kafir.

7. Ketika bayi meninggal karena keguguran dan sudah memiliki ruh .

 Cara-cara mandi wajib (atau disebut juga mandi junub atau janabah) yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

1.      Berniat mandi wajib dan membaca basmalah.

2.      Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak 3 kali

3.      Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri

4.      Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan tangan ke tanah atau dengan menggunakan sabun

5.      Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat

6.      Mengguyur air di kepala sebanyak 3 kali hingga sampai ke pangkal rambut

7.      Mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri

8.      Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari

9.      Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan, lalu kiri.

Mudah kan? Nah, untuk wanita, ada beberapa tambahan sebagai berikut:

1.      Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air

2.      Melepas kepang rambut agar air pada pangkal rambut

3.      Ketika mandi setelah masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah untuk menghilangkan sisa-sisanya.

4.      Ketika mandi setelah masa haidh, disunnahkan juga mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh

Tambahan lain tentang mandi wajib yang sering ditanyakan:

1.      Jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

2.      Setelah mandi wajib, diperbolehkan mengeringkan tubuh dengan kain atau handuk

3.      Berkumur-kumur ( madhmadhoh ), memasukkan air dalam hidung ( istinsyaq ) dan menggosok-gosok badan ( ad dalk ) adalah sunnah menurut mayoritas ulama.

 

Sumber referensi :

1.      Jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al Maidah: 6)

2.      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS . An Nisa ‘: 43)

3.      “Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani).” (HR. Muslim no. 343)

4.      Dari Aisyah RA, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi, beliau menjawab,” Dia wajib mandi “. Dan beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab: “Dia tidak wajib mandi”. “(HR. Abu Daud no. 236, At Tirmidzi no. 113, Ahmad 6/256. Dalam hadits ini semua perowinya shahih kecuali Abdullah Al Umari yang mendapat kritikan [6] . Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

5.      “Ummu Sulaim (istri dari Abu Tholhah) datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi? “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:” Ya, jika dia melihat air. “(HR. Bukhari no. 282 dan Muslim no. 313)

6.      “Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya,), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

7.      Dari Aisyah RA, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah, pen) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi.” (HR. Muslim no . 350)

8.      Dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu’ anhu, “Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun Sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

9.      “Mandikanlah dengan Mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)

10.  Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah. Dia berkata, “Jika bayi karena keguguran tersebut sudah memiliki ruh, maka ia dimandikan, dikafani dan disholati. Namun jika ia belum memiliki ruh, maka tidak dilakukan demikian. Waktu ditiupkannya ruh adalah jika isinya telah mencapai empat bulan, sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

11.  “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

12.  “Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

13.  Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,” Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku . “(HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

14.  “Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

15.  “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci. “(HR. Muslim no. 330)

16.  Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu ia memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian ia mengalirkan air ke seluruh kulitnya. “(HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no . 316)

17.  Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam. Lalu ia menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya ia menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu ia menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh wajah dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh tubuhnya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda). “(HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

18.  An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja ‘(membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, harus ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau harus ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”

19.  Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh tubuh tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu). “

20.  Dari Aisyah RA, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian ia mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya sampai bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, ia Mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh tubuh lainnya. “(HR. Bukhari no. 272)

21.  Dari Aisyah RA, “Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri. “(HR. Bukhari no. 277)

22.  Dari Aisyah RA, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap hal (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

23.  Dalam hadits Ummu Salamah, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka).Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci. “(HR. Muslim no. 330)

24.  Dari Aisyah RA, “Asma ‘bertanya kepada Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian harus mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma ‘berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata-seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi) “. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian menuangkan air padanya ‘. “(HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

25.  Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

26.  Dari Ibnu ‘Umar, Beliau ditanya tentang wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu ‘dan mauquf

27.  Dalam hadits Maimunah, “Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi ia tidak mengambilnya, lalu ia pergi dengan mengeringkan air dari tubuhnya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276)

 B.     Mandi Sunnah

Jenis mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW diantaranya adalah:

1.      Mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha . Rasulullah SAW mencontohkan melakukan mandi sebelum berangkat ke tanah lapang untuk menunaikan sholat Idul Fitri maupun Idul Adha.

2.      Mandi ketika ihrom untuk haji atau umroh .

3.      Mandi ketika masuk Mekkah .

4.      Mandi ketika sadar dari pingsan .

5.      Mandi ketika ingin mengulangi jima (bersenggama dengan istri) .

6.      Mandi setiap kali sholat untuk wanita yang sedang mengeluarkan darah akibat sakit .

7.      Mandi setelah memandikan mayit .

8.      Mandi sebelum sholat Jum’at . Beberapa hal penting terkait mandi Jum’at ini adalah:

  • Mandi ini dimaksudkan untuk membersihkan diri sebelum sholat Jum’at, jadi bukan untuk menghormati hari Jum’at itu sendiri
  • Terkait hal diatas, maka mandi ini disunnahkan hanya untuk orang yang akan menghadiri sholat Jum’at
  • Banyak ulama yang mewajibkan mandi ini. Jadi, sebaiknya kita biasakan selalu melakukannya
  • Waktu mandi Jum’at dimulai setelah terbit matahari, namun lebih baik jika ketika akan pergi ke mesjid untuk sholat Jum’at.
  • Mandi Jum’at ini dapat dilakukan dengan dikombinasikan dengan mandi junub, asalkan dilakukan setelah terbit matahari.

 Sumber referensi :

1.      Dari ‘Ali bin Abi Thalib, “Seseorang pernah bertanya pada’ Ali radhiyallahu ‘anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab, ” Mandilah setiap hari jika kamu mau.”Orang tadi berkata,” Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan? “‘Ali menjawab,” Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arofah, hari Idul Adha dan Idul Fithri. “(HR. Al Baihaqi 3/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih . Lihat Al Irwa ‘1/177)

2.      Riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma , Dari Nafi ‘, (ia berkata bahwa)’ Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Muwatho ‘426. An Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih

3.      Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, ” Ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaiannya yang dijahit, lalu beliau mandi. “Abu Isa At Tirmidzi mengatakan,” Ini merupakan hadits hasan gharib. Sebagian ulama menyunahkan mandi pada waktu ihram. Ini juga pendapat Asy Syafi’i. “(HR. Tirmidzi no. 830. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih ).Anjuran untuk mandi ketika ihrom ini adalah pendapat mayoritas ulama

4.      Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma . Nafi ‘berkata, ” Ibnu Umar tidak pernah memasuki kota Makkah kecuali ia bermalam terlebih dahulu di Dzi Thuwa sampai waktu pagi datang. Setelah itu, ia mandi dan baru memasuki kota Makkah pada siang harinya. Ia menyebutkan bahwa hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau melakukannya. ” (HR. Muslim no. 1259)

5.      Ibnul Mundzir mengatakan, “Mandi ketika memasuki Mekkah disunnahkan menurut kebanyakan ulama. Jika tidak dilakukan, tidak dikenai fidyah ketika itu. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa mandi ketika itu bisa pula diganti dengan wudhu. “

6.      Dari ‘Aisyah RA, Dari’ Ubaidullah bin ‘Abdullah bin’ Utbah berkata, “Aku masuk menemui ‘Aisyah aku lalu berkata kepadanya,” Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang peristiwa yang pernah terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit? “‘Aisyah menjawab, ” Ya. Pernah suatu hari ketika sakit Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semakin berat, beliau bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat? “Kami menjawab,” Belum, mereka masih menunggu tuan. “Beliau pun bersabda,” Kalau begitu, bawakan aku air dalam bejana . “Maka kami pun melaksanakan apa yang diminta beliau. Ia lalu mandi, lalu berusaha berdiri dan pergi, namun ia jatuh pingsan. Ketika sudah sadarkan diri, ia kembali bertanya, ” Apakah orang-orang sudah shalat? “Kami menjawab,” Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan . “Kemudian beliau berkata lagi,” Bawakan aku air dalam bejana . “Dia lalu duduk dan mandi . Kemudian dia berusaha untuk berdiri dan pergi, namun ia jatuh pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri kembali, dia berkata, ” Apakah orang-orang sudah shalat? “Kami menjawab lagi,” Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan . “Kemudian beliau berkata lagi,” Bawakan aku air dalam bejana . “Dia lalu duduk dan mandi. Kemudian dia berusaha untuk berdiri dan pergi, namun ia jatuh dan pingsan lagi. Ketika sudah sadarkan diri, beliau pun bersabda, ” Apakah orang-orang sudah shalat? “Saat itu orang-orang sudah menunggu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid untuk shalat ‘Isya di waktu yang akhir. (HR. Bukhari no. 687 dan Muslim no. 418)

7.      Abu Rofi ‘ radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?” Beliau menjawab, “Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih . “(HR. Abu Daud no. 219 dan Ahmad 6/8. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan )

8.      Dari Abu Sa’id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulangi senggamanya, maka hendaklah ia berwudhu. “(HR. Muslim no. 308)

9.      Dari ‘Aisyah RA, ” Ummu Habibah mengeluarkan darah istihadhah (darah penyakit) selama tujuh tahun. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah itu. Dia lalu memerintahkan kepadanya untuk mandi, beliau bersabda, “Ini akibat urat yang luka (darah penyakit).”Maka Ummu Habibah selalu mandi untuk setiap kali shalat. “(HR. Bukhari no. 327 dan Muslim no. 334)

10.  Dari Abu Hurairah, ” Setelah memandikan mayit, maka harus mandi dan setelah memikulnya, harus berwudhu . “(HR. Tirmidzi no. 993. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih )

11.  ” Barangsiapa memandikan mayit, maka hendaklah ia mandi. Barangsiapa yang memikulnya, hendaklah ia berwudhu. “(HR. Abu Daud no. 3161. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih )

12.  Ibnu ‘Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menghadiri shala Jum’at baik laki-laki maupun perempuan, maka hendaklah ia mandi. Sedangkan yang tidak menghadirinya-baik laki-laki maupun perempuan-, maka ia tidak punya keharusan untuk mandi “. (HR. Al Baihaqi, An Nawawi mengatakan bahwa hadits ini shahih ). “Demikian nukilan dari An Nawawi.

13.  ” Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at, maka hendaklah ia mandi. “(HR. Bukhari no. 919 dan Muslim no. 845)

14.  ” Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim adalah ia mandi dalam satu hari dalam sepekan dari hari-hari yang ada . “(HR. Bukhari no. 898 dan Muslim no. 849)

15.  ” Barangsiapa berwudhu di hari Jum’at, maka itu baik. Namun barangsiapa mandi ketika itu, maka itu lebih afdhol. “(HR. An Nasai no. 1380, At Tirmidzi no. 497 dan Ibnu Majah no. 1091). Hadits ini diho’ifkan oleh sebagian ulama.

16.  ” Barang siapa berwudhu ‘kemudian menyempurnakan wudhu’nya lalu mendatangi shalat Jum’at, lalu dia mendekat, mendengarkan serta berdiam diri (untuk menyimak khutbah), maka akan diampuni dosa-dosanya di antara hari itu sampai Jum’at (berikutnya) dan ditambah tiga hari setelah itu. Barang siapa yang bermain kerikil, maka ia telah melakukan perbuatan sia-sia . “(HR. Muslim no. 857)

17.  ” Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) sampai selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari . “(HR. Muslim