Peran marga dalam kehidupan budaya Batak sangat penting dan berpengaruh.

Selain daripada identitas, marga juga merupakan bentuk terjemahan dan penerapan dari dalian na tolu sebagai landasan budaya Batak.

Istilah marga dapat didefinisikan sebagai kelompok orang yang berasal dari
keturunan seorang nenek moyang yang sama dan garis keturunan diperhitungkan melalui pihak
laki-laki atau ayah (patrilineal).

Pada umumnya orang Batak mengelompokkan diri mereka ke dalam beberapa marga (klan) dan tiap-
tiap marga selalu menempatkan diri mereka sebagai keturunan dari seorang tokoh nenek-moyang yang berlainan asal. Tokoh leluhur suatu marga biasanya bersifat legendaris,
dan senantiasa mereka tempatkan di awal silsilah keturunan (tarombo) mereka.

Tarombo ialah catatan tentang silsilah keturunan.Dengan adanya tarombo ini, setiap marga dapat mengetahui asal-usul dan jumlah keturunan mereka sampai
sekarang.Tarombo menjadi sumber sejarah asal-usul orang Batak di masa lalu.

Dengan tarombo, seseorang mengetahui, apakah ia harus memanggil satu sama lain dengan kahanggi (saudara semarga), namboru atau bouk (saudara perempuan Ayah),udak (paman, saudara laki-laki Ayah),
iboto atau ito (saudara perempuan), ompung, tulang, nantulang, borutulang, amangboru, amangtua, amanguda, nanguda, inangtua atau nattobang, pariban,
dan seterusnya.

Marga dan tarombo adalah warisan budaya Batak yang memiliki nilai-nilai luhur.

Menurut sejarahnya, leluhur asli suku bangsa Batak ialah Si Raja Batak yang bermukim di daerah Pusuk Buhit di kampung Sianjur Mula-Mula, di pinggiran Danau Toba, lebih kurang 8 km arah barat Kota Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir.

Si Raja Batak diperkirakan hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13).

Si Raja Batak memiliki tiga orang anak, yaitu Guru Tateabulan, Raja Isombaon, dan Toga Laut. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.

Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra— Si Raja Biak-Biak, Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Malau Raja— dan 4 orang putri, yaitu: Si Boru Pareme,
Si Boru Anting Sabungan, Si Boru Biding Laut, Si Boru Nan Tinjo.

Si Boru Pareme yang kawin dengan Tuan Sariburaja melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Si Raja Lontung yang merupakan putra pertama dari Tuan Sariburaja mempunyai 7 orang putra—Tuan Situmorang (keturunannya bermarga Situmorang), Sinaga Raja (keturunannya bermarga Sinaga), Pandiangan (keturunannya bermarga Pandiangan),
Toga Nainggolan (keturunannya bermarga Nainggolan),Simatupang (keturunannya bermarga Simatupang), Aritonang (keturunannya bermarga Aritonang), Siregar(seluruh keturunannya bermarga Siregar)—
dan 2 orang putri, yaitu: Si Boru Anakpandan yang kawin dengan Toga Sihombing, Si Boru Panggabean yang kawin dengan Toga Simamora.

Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina (Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu), Pasia Boruna Sihombing Simamora.
Siregar merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara ini.

Menurut hikayat, Si Raja Lontung bermukim di Desa Banuaraja yang terletak di daerah perbukitan sebelah atas Desa Sabulan, di pinggiran Danau Toba, berseberangan dengan Pangururan di Pulau Samosir. Pada suatu masa, terjadi banjir besar yang melanda Desa Banuaraja dan Sabulan.
Anak-anak keturunan Si Raja Lontung terpaksa mengungsi. Sinaga dan Pandiangan ke Urat-Samosir, Nainggolan ke Nainggolan-Samosir, Simatupang dan Aritonang ke Pulau Sibandang, dan Siregar ke Aeknalas-Sigaol. Sedangkan, Situmorang hanya sampai di Sabulan.
Suatu ketika Aritonang memanggil adiknya Siregar dari Aeknalas-Sigaol ke Desa Aritonang di Muara, yang akhirnya kemudian menetap dan beranak-pinak di situ. Selanjutnya dari Desa Aritonang-lah marga Siregar menyebar ke sekitar Muara.

Konon kabarnya, kemarau panjang pernah melanda Muara yang menyebabkan gagal panen sehingga beberapa keturunan marga Siregar merantau ke arah Siborongborong-Humbang dan langsung membangun kampung di sana yang diberi nama Lobu Siregar.

Untuk mencari penghidupan yang lebih baik, dari sini ada sebagian dari mereka yang menjelajah ke arah Pangaribuan dan sebagian lagi menuju Desa Sibatangkayu. Setelah bermukim beberapa lama, dari sini mereka berangkat lagi ke Bungabondar, Sipirok hingga ke Angkola-Tapanuli Selatan.

Mendengar saudara-saudaranya berhasil di perantauan, keturunan marga Siregar yang masih tinggal di Muara, akhirnya berpindah ke Tarutung-Silindung dan mendirikan kampung yang diberi nama Desa Simarlala Pansurnapitu. Dari desa itu, mereka berpindah lagi menuju Pantis-Pahae dan beranak-pinak di sini.
Keturunan marga Siregar yang dari Pantis ini menjelajah dan mendirikan kampung di Onanhasang, di sekitar Pahae. Dari Onanhasang, keturunannya merantau lagi dan mendirikan kampung di Simangumban dan Bulupayung.

Dengan demikian, penelusuran asal-muasal Toga Siregar berawal dari perjalanan panjang perantauan marga Siregar; mulai dari Banuaraja-Sabulan di Pangururan, Kabupaten Samosir, menyebar ke daerah Muara, Humbang Hasundutan (Dolok Sanggul), Pangururan, Bungabondar, Sipirok, Pahae, Simangumban, dan Bulupayung. Meskipun, ada yang berpindah-pindah,
tetapi di tiap-tiap perkampungan yang dibuat selalu ada keturunannya yang tinggal di sana, berkembang-biak dan beranak-pinak serta memiliki tanah, desa atau “huta”. Itulah sebabnya mengapa orang-orang bermarga Siregar selalu mengatakan dirinya berasal dari huta-huta tersebut.

Toga Siregar memiliki 4 orang anak (yang kemudian akan menjadi marga-marga), yaitu: Silo, Dongoran, Silali, dan Siagian.

Keempat keturunan Toga Siregar ini sering dijuluki Si Opat Ama.

      Dari keempat anak ini lahir pulalah marga-marga Siregar:
  1. Silo (dari kata Silogo-logo=nama sejenis kuda)
    Silo
    Sormin
    Baumi
  2. Dongoran
    Dongoran
    Salak
    Pahu
  3. Silali (dari kata lali=nama sejenis burung elang)
    Silali Toruan (=Ritonga)
    Silali Dolok
  4. Siagian

Marga Siregar digolongkan ke dalam subsuku Batak Angkola-Mandailing.Nama-nama marga lainnya adalah: Harahap, Hasibuan, Dalimunte, Mardia, Pulungan, Lubis, Nasution, Rangkuti, Parinduri, Daulae, Matondang, Batubara, Tanjung
dan Lintang.
Marga Siregar yang umumnya bermukim di daerah Tapanuli Selatan berada di wilayah Angkola (Padangsidempuan dan sekitarnya), Batangtoru, Mandailing (Panyabungan—Kotanopan), Padang Lawas
(Gunung Tua dan sekitarnya), Sibuhuan, dan Sipirok.

Orang-orang bermarga Siregar ini pun sudah berbaur maupun kawin campur antarsubkultur dan menyebar ke seluruh pelosok nusantara dan seantero dunia.

About these ads